Menangis Karena Kejutan Ulang Tahun (Bagian 2)

Menangis Karena Kejutan Ulang Tahun Assalamualaikum, halo kawan. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga semangat dan sehat selalu.

Hey kawan, pernah ndak sih kalian mendapatkan kejutan ulang tahun? Pasti pernah kan? Saya yakin kebanyakan orang pasti pernah mendapatkannya, baik dari teman, sahabat, keluarga, maupun dari orang  terkasih (ceileee).

Nah disini saya akan menuliskan kisah dimana saya mendapatkan kejutan ulang tahun dari seseorang yang terduga, tapi sebenarnya lebih tepat kalau disebut “dikerjai” oleh orang yang tak terduga.

Kisah ini menarik untuk saya tulis karena menjadi salah satu kenangan memalukan yang pernah saya alami.

Kisah ini terjadi saat saya duduk dibangku kelas 3 SMP, saya lupa tepatnya tanggal berapa atau hari apa (maklum sudah bertahun-tahun lalu).

Seperti biasa saya memulai aktivitas layaknya anak sekolah pada umumnya yaitu bangun pagi, solat subuh, tidur lagi sebentar, mandi, sarapan lalu berangkat sekolah. Saya harus berangkat pagi-pagi untuk pergi ke sekolah karena kalau kesiangan nanti bisa terlambat (ya iyalah).

Asal kalian tahu perjalanan saya menuju ke sekolah membutuhkan perjuangan yang besar, saya harus mancal sepeda sejauh 2 km dari rumah menuju jalan besar (Surabaya-Malang), lalu naik angkutan umum yang biasa disebut kol sekitar 30 menit menuju Gempol, setelah turun kol saya berjalan kaki sejauh 400 meter untuk sampai di gerbang sekolah.

Perjalanan masih belum usai, karena kelas saya terletak paling pojok (samping toilet) sehingga untuk sampai ke kelas saya harus berjalan lagi sejauh 100 meter (ini masih versi singkatnya loh).

Saya berjalan melewati beberapa kelas dan menyapa beberapa teman yang saya kenal. Sesampainya dikelas saya langsung menuju tempat duduk saya yang berada di baris ke 3 dari depan, sebelah barat.

Teman sebangku saya bernama Indra (kalau ndak salah) dan dia orang yang baik. Sungguh, Saya ndak merasakan apapun yang aneh atau janggal pagi itu.

Suasana kelas sebelum jam pelajaran selalu riuh ndak jelas, mungkin karena masih pagi dan semangat-semangatnya.

Pelajaran pertama di hari itu adalah bahasa indonesia dan yang mengajar adalah salah satu guru paling killer di sekolahanku.

Sepertinya banyak murid yang ndak suka sama guru yang satu ini. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya tulisan-tulisan berbau kebencian di dinding kamar mandi dan dinding kelas (Astaghfirullah, semoga hal-hal tersebut tidak terjadi lagi karena bagaimanapun sifatnya, dia tetap adalah seorang guru yang wajib kita hormati).

Setelah bel masuk berbunyi, semua murid segera masuk kedalam kelas dan duduk rapi di kursinya masing-masing sambil menunggu kedatangan pak guru killer tersebut.

Setiap kali guru ini mengajar, saya ndak berani melakukan hal yang membuat dia marah seperti tiba-tiba njundu kepalanya, njegal kakinya dan mlintir tangannya (ya iyalah, memangnya mau di sate apa?).

Pokoknya satu kelas termasuk yang biasa bikin rame dan bikin ulah pun jadi pendiam kala pak guru ini yang mengajar.

Dari kejauhan kami sudah merasakan hawa keberadaannya dan kamipun segera berpura-pura menjadi anak yang baik, rajin, penurut dan rapi.

Saat pak guru tersebut masuk dan duduk di mejanya, ketua kelas kami Bayu (kalau ndak salah) memimpin kami untuk memberi salam dan berdoa bersama.

Kamipun mengucapkan salam dan membaca Al fatihah bersama-sama. Disinilah kejadian tersebut dimulai, pak guru melihat tajam ke arah saya dan sayapun hanya bisa menunduk tanpa tau maksudnya. Lalu dia menyuruh saya untuk membaca Al fatihah sendirian.

“Hey kamu, baca doa sekali lagi”, bentaknya.

“Iya pak”, jawab saya (lalu membaca Al fatihah).

“Sekali lagi”, teriaknya.

“Loh kan sudah benar pak”, jawab saya sambil ketakutan.

“Kamu ini malah ngelawan, baca lagi sampai 3 kali”, bentaknya sambil marah-marah.

sensei_okoruSaya pun segera membaca Al fatihah sebanyak 3 kali dengan sedikit gemetaran. Setelah selesai, pak guru malah menyuruh saya untuk maju ke depan. Sontak saya kaget, saya ndak tau kesalahan apa yang saya lakukan sampai dia menyuruh saya ke depan padahal saya sudah membaca Al fatihah dengan benar. Sayapun maju dengan kepala tertunduk karena takut melihat wajahnya yang sedang menatap saya tajam-tajam.

Dia bilang ke saya kalau saya ini anak yang nakal, ndak tau aturan, suka membuat ulah dan tuduhan-tuduhan lain yang tidak pernah saya lakukan.

Saya takut dan malu bukan kepalang, di marahi habis-habisan didepan kelas dan teman-teman saya hanya bisa diam sambil melihat saya. Jujur, di marah-marahin seperti itu membuat saya kepingin menangis.

Akhirnya setelah puas memarahi, pak guru tersebut malah tersenyum hampir tertawa melihat saya yang sudah mau mengeluarkan air mata saking ketakutannya. Mungkin dirasa sudah cukup, diapun bilang sesuatu kepada saya yang membuat saya semakin kaget.

“Sudah-sudah jangan nangis, selamat ulang tahun ya”, ucap nya sambil tersenyum.

Sontak seluruh kelas langsung riuh dan menyanyikan lagu happy birthday untuk saya. Kemudian satu persatu memberikan ucapan selamat dan doa (sambil salaman).

Saya yang awalnya sudah mau menangis karena di marah-marahin pak guru, malah jadi menangis beneran karena malu.

Setelah menangis di depan kelas sambil salaman sama semua teman-teman, saya langsung berlari menuju tempat duduk saya dan bersembunyi dibawahnya sambil masi menangis menahan malu yang luar biasa.

Pak guru dan teman-teman sekelas saya terlihat sangat bahagia merayakan keberhasilan mereka.

Jadi setelah saya selidiki, ternyata sebelum pak guru masuk ke ruang kelas, beliau di beri tahu oleh ketua kelas saya kalau saya ulang tahun hari itu dan meminta tolong untuk ikut serta mengerjai saya.

Ya begitulah kisah saya yang sangat memalukan bagian 2, menangis di depan kelas, didepan guru dan teman-teman saya.

Padahal sejak kejadian memalukan sebelumnya saya mencoba untuk lebih mewaspadai kejadian seperti ini dan sudah berjanji pada diri sendiri agar tidak membuat hal yang memalukan lagi.

Tapi ya mau bagaimana lagi, rencana tinggal lah rencana dan yang terjadi biarlah terjadi (lah maksude iki piye?).

Bagaimana tulisan saya? Aneh? Ndak jelas? Atau bahkan jijiki? Ya begitulah saya.

Semoga bermanfaat.

Leave a Comment