Penjelasan Tentang Wisata dalam Tinjauan Agama dan Sejarah

Posted on

Wisata dalam Tinjauan Agama dan Sejarah Di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia modern yang serba mesin, melakukan perjalanan wisata atau bertamasya, merupakan salah satu cara untuk menemukan ketenangan dan kesempatan untuk membebaskan diri dari berbagai beban kehidupan.

Berwisata dan bertamasya akan memunculkan perasaan segar dalam jiwa manusia dan memberikan semangat baru dalam dirinya untuk melanjutkan kehidupannya secara lebih baik.

Agama Islam menganjurkan kaum muslimin untuk berwisata, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran surat Al-Ankabut ayat 20, yang artinya, “Katakanlah: berjalanlah di muka bumi maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Sejarah umat manusia sejak zaman dahulu kala sarat dengan kisah perjalanan dan upaya untuk mendatangi tempat-tempat baru yang belum dikenal.

Manusia melakukan perjalanan untuk mendatangi berbagai penjuru bumi dengan berbagai tujuan, baik agama, perdagangan, atau untuk berwisata dan memenuhi keingintahuannya terhadap dunia baru.

Perjalanan ke kawasan-kawasan yang baru dan belum dikenal serta penemuan atas bagian dunia yang sebelumnya tak terlihat, merupakan motivasi kuat bagi orang-orang yang gemar berpetualang dan penuh rasa ingin tahu, untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka dan melakukan perjalanan jauh.

Berbagai buku catatan perjalanan yang ditulis para penjelajah dari Timur, seperti Ibnu Batutah dan Nasher Khusrou, atau para petualang Barat seperti Marcopolo dan James Cook, kini menjadi sumber literatur bagi manusia yang ingin mengenali berbagai jenis kehidupan umat manusia di berbagai negara dan bangsa pada zaman dahulu.

Mengenal Budaya Lain

Berwisata dan bertamasya, selain sebagai cara untuk melewatkan waktu luang, juga merupakan alat untuk mengenal kebudayaan bangsa lain dan melihat berbagai peninggalan sejarah. Berwisata akan memberikan pengalaman yang mahal bagi manusia.

Berbagai pengalaman dan pengajaran yang didapatkan oleh seorang manusia setelah melakukan perjalanan jauh dari tanah kelahirannya akan menjadi modal untuk menjalani kehidupannya, membuka cakrawala pemikirannya, dan mengenalkannya pada hikmah dan kebijaksanaan.

Seorang penulis Iran pernah menyatakan, “Manusia-manusia besar tidak tercipta untuk tinggal pada satu tempat saja. Bagi mereka, tinggal di suatu tempat saja akan membuat hidup mereka terasa sempit.

Bisa dikatakan, jiwa besar mereka tidak bisa disimpan dan dibatasi oleh tubuh mereka. Manusia-manusia seperti ini bagaikan elang yang terbang ke ujung langit untuk mencapai ketinggian.

Dengan mata mereka yang tajam, mereka membuka rahasia-rahasia penciptaan. Dalam perjalanan itu, mereka mengenal hakikat keberadaan serta menerima hikmah dan kebijaksanaan dengan sepenuh hati dan jiwa.”

Wisata dalam Perekonomian

Dalam beberapa dekade terakhir, karena banyaknya penduduk dunia yang melakukan perjalanan wisata, pariwisata telah berkembang menjadi suatu lahan pekerjaan yang menguntungkan.

Pada dekade 1950-an, PBB menyebut pariwasata sebagai industri dan dengan demikian pariwisata merupakan salah satu lahan yang signifikan dalam peningkatan perekonomian negara.

Bahkan, industri pariwisata dianggap sebagai industri yang sangat menguntungkan, di samping industri minyak dan otomotif.

Pada tahun 2000 industri pariwisata telah menghasilkan income sebesar 476 milyar dolar, yang artinya 12 persen dari aktivitas perekonomian dunia dan mengalami tingkat pertumbuhan sebesar 7,4 persen. Jumlah wisatawan pada tahun tersebut 700 juta orang.

Menurut prediksi dari organisasi pariwaisata dunia atau WTO, pada tahun 2020, jumlah wisatawan dunia akan meningkat hingga satu milyar orang.

Selain itu, industri pariwasata telah menjadi salah satu industri yang terbanyak menyerap tenaga kerja, yaitu membuka 200 juta lapangan kerja secara langsung maupun tidak langsung.

Ini artinya meliputi 10 persen dari seluruh lapangan kerja yang ada di seluruh dunia. Apalagi, industri pariwisata dapat dikembangkan tanpa diperlukan modal yang terlalu banyak, cukup dengan membangun fasilitas dan kemudahan terhadap objek-objek yang menarik bagi para wisatawan, seperti bangunan bersejarah, atraksi kebudayaan, atau keindahan alam.

Oleh karena itulah, pemerintah di berbagai negara dunia memberikan perhatian khusus terhadap bidang ini.

Fenomena Kultural

Di sisi lain, pariwisata juga merupakan sebuah fenomena kultural. Di dunia dewasa ini, pariwisata merupakan salah satu alat yang terbaik untuk tukar-menukar dan saling mengenal budaya.

Oleh karena itulah industri pariwisata juga disebut sebagai media pemahaman budaya berbagai bangsa. Berdasarkan pandangan sebagian pengamat masalah budaya, para wisatawan akan mengenal budaya, adat istiadat, tradisi agama, dan kondisi sosial-ekonomi dari berbagai bangsa.

Dengan cara ini, dapat dibangun pemahaman antar peradaban dan budaya di antara berbagai bangsa dan menciptakan rasa persahabatan dan cinta di antara sesama manusia dari berbagai bangsa.

Negara-negara Islam memiliki posisi geografis, historis, dan kultural yang khas, serta kaya akan berbagai peninggalan bersejarah dari peradaban Islam di masa lampau. Oleh karena itu, negara-negara Islam memiliki keistimewaan tersendiri dalam dunia pariwisata.

Jika negara-negara Islam memiliki program yang tepat dan terarah, mereka akan mampu membangun industri pariwasata yang memberi keuntungan besar bagi perekonomian, namun di saat yang sama juga mampu mempertahankan dan melindungi nilai-nilai keislaman di negara-negara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *