Inilah Pengertian, Ciri-ciri dan Macam-macam Dongeng Beserta Contohnya

Posted on

Dongeng Siapa diantara Anda yang sering mendengarkan dongeng sebelum tidur? Biasanya para ibu, akan membacakan dongeng untuk anak-anaknya yang masih kecil agar mereka segera tidur. Banyak sekali dongeng-dongeng yang bisa diceritakan, mulai dari dongeng tentang peri, dongeng tentang pahlawan, dongeng tentang binatang, dongeng rakyat dan lain-lain.

Tapi tahukah Anda apa pengertian dari dongeng? Jika belum, maka dalam artikel ini akan dijelaskan secara lengkap mengenai pengertian, cirri-ciri dan jenis dari dongeng.

Pengertian Dongeng

Dongeng adalah salah satu bentuk dari sastra lama yang didalamnya bercerita mengenai suatu kejadian yang hebat dan luar biasa yang penuh dengan khayalan (fiksi) yang masyarakat menganggapnya sesuatu hal yang tidak benar-benar terjadi.

Dongeng ini biasanya berbentuk cerita tradisional yang diceritakan secara turun temurun dari nenek moyang terdahulu. Fungsi dari dongeng adalah untuk menyampaikan suatu ajaran moral dan juga untuk menghibur.

Dalam pengertian lain yang disampaikan oleh Boscom dalam Danandjaja, dongeng dianggap sebagai salah satu prosa fiktif yang mempunyai tujuan untuk sebuah hiburan, pelajaran moral serta bertujuan untuk menyindir.  Walaupun dongeng adalah sebuah karya sastra fiktif, namun ada banyak dongeng yang terinspirasi dari kisah nyata.

Dongeng ini juga termasuk dalam karya sastra foklor, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang suatu kebudayaan yang berada dalam masyarakat. Contohnya seperti dongeng yang diceritakan secara terbuka dengan menggunakan media seperti boneka, ataupun dongeng yang diceritakan secara lisan sebagai pengantar tidur.

Struktur Dongeng

Biasanya dongeng terbagi menjadi tiga bagian penting, yakni bagian pendahuluan, bagian peristiwa atau isi dan bagian penutup. Berikut adalah penjelasan dari tiap-tiap bagian.

1. Bagian pendahuluan adalah kalimat pengantar untuk mengawali atau memulai sebuah dongeng.

2. Bagian peristiwa atau isi adalah bentuk dari kejadian-kejadian yang penyusunannya berdasarkan dengan urutan waktu.

3. Bagian penutup adalah bagian akhir dari susunan cerita yang dibuat untuk mengakhiri sebuah cerita. Banyak sekali kalimat-kalimat penutup yang biasa digunakan dalam dongeng, salah satunya adalah dan akhirnya mereka dapat hidup bersama dan bahagia selamanya.

Ciri-ciri Dongeng

  • Biasanya dongeng diceritakan dengan alur yang sangat sederhana
  • Penulisan dalam dongeng biasanya ditulis dalam alur cerita yang singkat dan bergerak cepat
  • Biasanya dongeng ditulis seperti gaya penceritaan dengan lisan
  • Dalam dongeng biasanya karakter tokoh utama tidak diceritakan secara detail atau rinci
  • Terkadang tema ataupun pesan dituliskan di dalam cerita
  • Pendahuluan dalam dongeng biasanya sangat singkat dan langsung pada topik cerita

Macam-macam Dongeng

Ada beberapa macam dongeng, berikut penjelasannya masing-masing.

1. Cerita Jenaka

Cerita jenaka adalah jenis dongeng yang berkembang dalam masyarakat yang berisi tentang hal-hal lucu atau komedi serta dapat membangkitkan tawa, contohnya adalah cerita pak belalang.

2. Cerita Pelipur Lara

Cerita pelipur lara adalah jenis dongeng yang bertujuan sebagai pelipur lara atau untuk menghibur tamu undangan dalam suatu acara yang biasanya dibawakan oleh ahli cerita, seperti wayang diceritakan oleh seorang dalang.

3. Cerita Perumpamaan

Cerita perumpamaan adalah jenis dongeng yang didalamnya mengandung ibarat-kiasan tentang nasihat-nasihat yang bersifat mendidik, contohnya seperti seorang haji pelit.

4. Fabel

Fable adalah jenis dongeng yang bercerita tentang binatang yang dpaat berbicara dan bertingkha laku layaknya manusia.

5. Legenda

Legenda adalah jenis dongeng yang didalamnya bercerita tentang asal usul dari suatu tempat atau suatu benda, contohnya seperti legenda Danau Toba dan Gunung Tangkuban Perahu.

6. Mite

Mite adalah jenis dongeng yang didalamnya menceritakan tentang hal-hal gaib, contohnya seperti cerita tentang peri dan dewa.

7. Sage

Sage adalah jenis dongeng yang bercerita tentang kesaktian, kepekasaan, dan kepahlawanan seseorang, contohnya seperti dongeng kesaktian Patih Gajah Mada.

Unsur-unsur Intrinsik Dongeng

Biasanya dongeng mengandung lima unsur intrinsic yang penting yakni tema, alur, penokohan, latar dan amanat. Berikut penjelasannya masing-masing.

1. Tema adalah ide utama dari cerita dan menjadi patokan untuk membangun suatu cerita.

2. Alur adalah jalan cerita yang pengurutannya berdasarkan urutan waktu ataupu berdasarkan sebab akibat.

3. Penokohan adalah proses penampilan tokoh dengan pemberian sifat, watak dan karakter.

4. Latar adalah unsur yang menujukkan waktu dan tempat dimana suatu cerita tersebut terjadi.

5. Amanat adalah pesan yang akan disampaikan oleh pembuat cerita kepada para pembacanya melalui cerita yang dibuatnya.

Kumpulan Contoh Dongeng

Ada banyak sekali contoh dongeng yang ada di Indonesia, apalagi di dunia. Berikut beberapa contoh dongeng diantaranya.

#Contoh Dongeng Cerita Jenaka

“Pak Pandir, Bodoh Tapi Jenaka”

Dahulu di sebelah timur kota Baghdad, ada seorang lelaki tua yang bodoh, karena kebodohannya ia disebut Pak Pandir. Begitu bodohnya ia, sehingga selalu percaya pada perkataan semua orang, bahkan anak-anak kecil pun ia percayai omongannya.

Pada suatu hari, ia ingin menjual kambingnya ke kota Baghdad. Pada masa itu orang-orang miskin harus berjalan berhari-hari untuk mencapai kota Baghdad.

Karena bodoh atau pandir ia jadi repot sekali jika hendak bepergian. Repot menyiapkan bekal perjalanan, ia harus menghitung baju, makanan dan minuman yang harus dibawa.

Ia memerlukan waktu seminggu untuk menyiapkan bekalnya, sesudah itu bekalnya dimasukkan ke dalam karung. Dan karung itu dinaikkan ke punggung keledai.

Kambingnya diikatkan ke ekor keledai dan di leher si kambing digantungkan sebuah lonceng.

“Sambil berjalan aku bisa mendengar bunyi lonceng itu,” pikir Pak Pandir.

Jika lonceng masih tetap berbunyi, itu tandanya tak ada yang mencuri kambingku. Nah, bukankah akalku cukup cerdik, hanya orang lain saja yang menganggapku bodoh.”

Pada waktu itu penduduk negeri belum sebanyak sekarang. Daerah-daerah yang menghubungkan satu desa dengan desa lainnya masih sepi, liar dan penuh bahaya.

Pak Pandir pun berangkat. Di tempat yang sunyi tiga orang perampok sudah menghadang. Mereka menunggunya lewat.

“Aku akan merampas kambingnya,” kata perampok pertama.

“Kalau begitu, aku keledainya,” kata perampok kedua.

Perampok yang ketiga mendengus kecewa.”Tinggal baju kumalnya itu yang masih bisa kurampas,” katanya.

Perampok pertama menunggu sampai Pak Pandir mendaki lereng yang cukup curam. Kemudian dia mengendap-ngendap dari balik semak. Diguntingnya tali pengikat kambing dengan ekor keledai dan dipindahkannya lonceng itu ke ekor keledai. Lalu dia bersembunyi lagi.

Pak Pandir terus melangkah dengan riang. Pikirnya, selama lonceng masing berkelining, berarti kambingnya masih ada.

Beberapa saat kemudian, dia menoleh dan terkejut sekali waktu melihat kambingnya tak ada lagi. Barulah Pak Pandir tahu, lonceng itu ternyata diikatkan ke ekor keledai. Dia sadar….. dia telah tertipu.

Dia menangis keras-keras! Pada saat itu datang seseorang lalu mendekatinya.

Dialah perampok yang kedua. “Ada apa Pak Tua?” tanyanya. “Mengapa anda menangis dan berteriak-teriak begitu?”

“Kambingku! Mula-mula ada. Sekarang tidak ada. Pasti ada yang mengambilnya,” keluh Pak Pandir.

“Astaga!” kata si perampok. “Untung kau bertemu denganku, Pak. Beberapa saat lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki menarik-narik seekor kambing. Nampaknya kambing itu enggan mengikutinya. Di balik rumpun pohon itu. Jika anda lari, pasti anda akan dapat menangkapnya.”

“Terima kasih,” kata Pak Pandir. Wajahnya berseri kembali. “Aku akan mengejarnya, tolonglah jaga keledaiku ini sementara aku pergi.”

“Baiklah,” kata si perampok kedua. Dipeganginya tali keledai. Pak Pandir segera lari ke arah rumpun pohon.

Tentu saja tak ada siapa-siapa. Kemudian, ketika ia dengan nafas tersengal-sengal sampai ke tempat kawan barunya ditinggal, orang itu telah menghilang bersama keledainya.

Pak Pandir menangis menjerit-jerit menjambaki rambutnya. Tapi tak ada gunanya. Kambingnya telah hilang. Keledainya dan bekal makanan serta pakaiannya juga telah lenyap. Tak ada yang dapat dikerjakannya selain balik ke desanya lagi.

Ia harus kembali menempuh jalan jelek yang berdebu itu. Matahari bersinar terik. Pak Pandir lega ketika sampai ke dekat sebuah perigi. Dekat perigi itu duduk seorang laki-laki yang sedang menangis meraung-raung sambil menarik-narik rambutnya. Persis dia sendiri tadi.

“Celaka. Sial,”tangis orang itu. Pak Pandir datang dan mendekatinya dan bertanya. “Mengapa?”

“Aku terjerat kesulitan yang paling rumit di dunia,” tangis yang ditanya.

Pak Pandir hampir-hampir tak percaya pada pendengarannya. Dia tak bisa membayangkan, masih ada yang lebih celaka lagi dibandingkan dengan dirinya. Tapi dengan sabar dia mendengarkan juga.

“Aku membungkuk ke dalam perigi, maksudku mau mengambil air,” kata orang itu. “Tahu-tahu kantung permata yang kubawa jatuh kedalam perigi, padahal permata-permata itu milik Khalifah. Jika aku pergi menghadap dan menceritakan yang sebenarnya, Khalifah takkan percaya dan akan memasukkan aku ke dalam penjara.”

Pak Pandir mengangguk-angguk.

“Ya, memang rumit,” katanya. “Mengapa tidak kauambil saja kantung itu? Kau pasti dengan mudah bisa menemukannya.”

“Oh, aku tak bisa berenang. Aku takut tenggelam dalam perigi,” kata si perampok ketiga.

“Kecuali permata, kantung itu juga berisi sepuluh keping uang emas. Uang itu akan kuhadiahkan kepada siapa pun yang bisa mengambilkan kantung itu.”

Pak Pandir merasa tertarik. Sepuluh keping uang emas cukup untuk membeli seekor kambing, seekor keledai, makanan, pakaian, dan masih akan tersisa banyak.

“Nah, aku akan masuk ke perigi dan mencari kantungmu.” katanya.

Tapi aku tak ingin bajuku jadi basah. Maukah kau menjaganya, sementara aku masuk ke perigi?”

“Tentu,” jawab si perampok ketiga. Pak Pandir pun masuk ke dalam perigi.

Air perigi itu sedingin es. Apalagi Pak Pandir baru saja berada di tempat yang sangat panas. Tentu saja, bagaimanapun telitinya dia mengaduk-ngaduk lumpur dalam perigi, kantung permata itu tak dapat ditemukan. Lekas-lekas dia naik kembali, tak ingin kawan barunya menunggu terlalu lama.

Tak bisa ditemukan, sebab memang tak ada kantung permata yang terjatuh ke dalam sumur. Di atas tak ada seorang pun yang menunggunya. Pakaiannya pun telah lenyap.

Beberapa saat kemudian, barulah ia sadar bahwa ia telah tertipu. Dengan sangat mendongkol ia berlari pulang.

Sepanjang jalan dia berteriak-teriak menceritakan kisah malangnya kepada siapa pun yang mau mendengar.

Para tetangga menganggap pengalamannya itu lucu sekali. Setiap malam, bergantian mereka mengundang Pak Pandir untuk makan malam sambil mengisahkan pengalamannya. Para tetangganya itu tertawa terpingkal-pingkal saat Pak Pandir bercerita.

#Contoh Dongeng Fabel

“Kisah Kancil dan Tikus”

Di hutan hiduplah dua ekor kancil. Mereka bernama Kanca dan Manggut. Kedua ekor kancil itu bersaudara. Manggut adalah kakak dari Kanca. Sebaliknya, Kanca adalah adik dari Manggut. Walaupun mereka bersaudara, tetapi sifat mereka sangatlah berbeda. Kanca rajin dan baik hati. Sedangkan Manggut pemalas dan suka menjahili teman-temannya.

Pada suatu hari Manggut kelaparan. Tetapi Manggut malas mencari makan. Akhirnya Manggut mencuri makanan Kanca. Waktu Kanca menanyai kepada Manggut di mana makanannya, Manggut menjawab dicuri tikus.

“Ah, mana mungkin dimakan tikus!” kata Kanca.

“Iya betul kok! Masa sama kakaknya tidak percaya!” jawab Manggut berbohong.

Mulanya Kanca tidak percaya dengan omongan Manggut. Tetapi setelah Manggut mengatakannya berkali-kali akhirnya Kanca percaya juga. Kanca memanggil tikus ke rumahnya.

“Tikus, apakah kamu mencuri makananku?” tanya Kanca pada tikus.

“Ha? Mencuri? Berpikir saja aku belum pernah!” jawab tikus.

“Ah, si tikus! Kamu ini membela diri saja! Sudah, Kanca! Dia pasti berbohong,” kata Manggut.

“Ya, sudahlah! Tikus, sebagai gantinya ambilkan makanan di seberang sungai sana. Tadi aku juga mengambil makanan dari sana!” kata Kanca mengakhiri percakapan.

Tikus berjalan ke tepi sungai. Ia menaiki perahu kecil untuk menuju seberang sungai. Sebenarnya tikus tahu kalau Manggut yang mencuri makanan.

Sementara itu, di bagian sungai yang lain, Manggut cepat-cepat menyeberangi sungai. Ia hendak memasang perangkap tikus agar tikus terperangkap.

Ketika tikus hampir mendekati seberang sungai, tikus melihat perangkap. Tikus yakin kalau perangkap itu dipasang oleh Manggut. Tiba-tiba tikus mendapat ide. Tikus berpura-pura tenggelam dalam sungai.

“Aaa…Manggut, tolong aku…!” teriak tikus.

Mendengar itu Manggut segera menolong tikus. Tikus meminta Manggut mengantarkannya ke seberang sungai. Manggut tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengantarkan tikus ke seberang sungai.

Sesampai di seberang sungai tikus meminta Manggut menemani tikus mengambil makanan. Karena Manggut tidak hati-hati, kakinya terperangkap dalam perangkap tikus. Manggut menyesali perbuatan buruknya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

#Contoh Dongeng Legenda

“Legenda Danau Toba”

Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa,“Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini”. Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.

Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. “Tolong aku jangan dimakan Pak!! Biarkan aku hidup”, teriak ikan itu. Tanpa banyak Tanya, ikan tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.

“Jangan takut Pak, aku tidak akan menyakiti kamu”, kata si ikan. “Siapakah kamu ini? Bukankah kamu seekor ikan?, Tanya petani itu. “Aku adalah seorang putri yang dikutuk, karena melanggar aturan kerajaan”, jawab wanita itu. “Terimakasih engkau sudah membebaskan aku dari kutukan itu, dan sebagai imbalannya aku bersedia kau jadikan istri”, kata wanita itu. Petani itupun setuju. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya kebahagiaan Petani dan istrinya bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.

Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug. Pak tani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya. “Hey, bangun!, teriak petani itu.

Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya. “Mana makanan buat ayah?”, Tanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.

Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. (sumber: neodv8.co)

#Contoh Dongeng Mite

“Pohon Pengabul Permohonan (India)”

Di sebuah gurun pasir yang sangat panas, seorang pengembara berjalan dengan gontai. Ia kelihatan lelah sekali. Ia juga kehausan dan kelaparan.

Setelah lama berjalan, ia menemukan sebuah tempat yang cukup teduh untuk beristirahat. Saat ia beristirahat, ia melihat sebuah pohon rindang di kejauhan. Ia senang sekali melihatnya dan berkata, “Andai saja aku punya air untuk minum.”

Tiba-tiba, ia melihat sebuah kendi berisi air yang dingin di depannya. Pengembara luar biasa senangnya dan mulai meneguk air dingin dalam kendi.

Setelah puas minum dan hilang hausnya, si pengembara kembali memohon, “Andai saja aku punya makanan saat ini.”

Segera setelah ia memohon, puluhan piring berisi makanan yang lezat-lezat muncul dihadapannya. Pengembara langsung makan dengan lahapnya. Selesai makan, ia mulai berpikir bagaimana semua ini bisa terjadi.

Setelah lama berpikir, ia mengetahui bahwa pohon yang ia lihat tadi itu adalah Kalpa Vriksha. Itu adalah pohon ajaib. Siapa pun yang melihat pohon itu dan memohon, keinginannya akan terkabul.

Pengembara tidak menyia-yiakan kesempatan itu. Ia langsung meminta ranjang yang empuk dan langsung terkabul. Sebuah ranjang muncul di hadapannya. Pengembara membaringkan badannya yang letih dan beristirahat.

Pengembara merasa kakinya pegal sekali. Lalu, ia memohon agar ada orang yang mau memijit kakinya. Benar saja, seorang wanita muda muncul dan mulai memijat kaki si pengembara.

Akhirnys, si pengembara tertidur. Pengembara tertidur cukup lama. Saat ia bangun, wanita muda yang memijitnya tadi masih berada di sisinya. Pengembara mulai berpikir lain.

“Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bisakah aku mendapatkan banyak hal dengan memohon saja tanpa perlu bekerja sama sekali. Ataukah ini hanya tipuan setan,” pikirnya.

Selesai pengembara berpikir demikian, mendadak setan muncul menggantikan sosok wanita muda tadi. Setan itu tertawa terbahak-bahak.

Lalu, si pengembara berkata, “Oh, apakah setan ini akan memakanku?”

Setan mulai membuka mulutnya lebar-lebar hendak memakan pengembara. Melihat hal itu, pengembara ketakutan. Ia melompat dari ranjang dan langsung berlari sekuatnya.

Setelah lama berlari, pengembara melihat ke belakang. Ternyata, setan itu sudah tidak mengejarnya. Ia pun bernapas lega.

Pesan Moral dari Mite ini adalah jika menginginkan sesuatu, berusahalah dengan keras. Setelah itu berdoalah kepada Tuhan. Jangan pernah menginginkan sesuatu dengan cara instan tanpa berusaha. Selain itu pikirkan dengan matang apa yang kamu inginkan, berhati-hatilah dengan apa yang kamu inginkan karena itu kemungkinan besar akan terwujud dimasa yang akan datang. (sumber: dongengceritarakyat.com)

#Contoh Dongeng Mite

“Ciung Wanara”

Prabu Barma Wijaya Kusuma memerintah kerajaan Galuh yang sangat luas. Permaisurinya 2 orang. Yang pertama bernama Pohaci Naganingrum dan yang kedua bernama Dewi Pangrenyep. Keduanya sedang mengandung.
Pada bulan ke-9 Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra. Raja sangat bersuka cita dan sang putra diberi nama Hariang Banga.

Hariang Banga telah berusia 3 bulan, namun permaisuri Pohaci Naganingrum belum juga melahirkan. Khawatir kalau-kalau Pohaci melahirkan seorang putra yang nanti dapat merebut kasih sayang raja terhadap Hariang Banga, Dewi Pangrenyep bermaksud hendak mencelakakan putra Pohaci.

Setelah bulan ke-13 Pohaci pun melahirkan. Atas upaya Dewi Pangrenyep tak seorang dayang-dayang pun diperkenankan menolong Pohaci, melainkan Pangrenyep sendiri.

Dengan kelihaian Pangrenyep, putra Pohaci diganti dengan seekor anjing. Dikatakannya bahwa Pohaci telah melahirkan seekor anjing. Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan dihanyutkannya ke sungai Citandui.

Karena aib yang ditimbulkan Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan seekor anjing, raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai istana) untuk membunuh Pohaci. Si Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah raja terhadap Pohaci, permaisuri junjungannya. Pohaci diantarkannya ke desa tempat kelahirannya, namun dilaporkannya telah dibunuh.

Adalah seorang Aki bersama istrinya, Nini Balangantrang, tinggal di desa Geger Sunten tanpa bertetangga. Sudah lama mereka menikah, tetapi belum dikarunia anak. Suatu malam Nini bermimpi kejatuhan bulan purnama. Mimpi itu diceritakannya kepada suami dan sang suami mengetahui takbir mimpi itu, bahwa mereka akan mendapat rezeki. Malam itu juga Aki pergi ke sungai membawa jala untuk menangkap ikan.

Betapa terkejut dan gembira ia mendapatkan kandaga emas yang berisi bayi beserta telur ayam, Mereka asuh bayi itu dengan sabar dan penuh kasih sayang. Telur ayam itu pun mereka tetaskan, mereka memeliharanya hingga menjadi seekor ayam jantan yang ajaib dan perkasa. Anak angkat ini mereka beri nama Ciung Wanara.

Setelah besar bertanyalah Ciung Wanara kepada ayah dan ibu angkatnya. Terus terang Aki dan Nini menceritakan tentang asal-usul Ciung Wanara. Setelah mendengar cerita ayah dan ibu angkatnya, tahulah Ciung Wanara akan dirinya.

Suatu hari Ciung Wanara pamit untuk menyabung ayamnya dengan ayam raja, karena didengarnya raja gemar menyabung ayam. Taruhannya ialah, bila ayam Ciung Wanara kalah ia rela mengorbankan nyawanya. Tetapi bila ayam raja kalah, raja harus bersedia mengangkatnya menjadi putra mahkota. Raja menerima dengan gembira tawaran tersebut.

Sebelum ayam berlaga, ayam Ciung Wanara berkokok dengan anehnya, melukiskan peristiwa benahun-tahun yang lampau tentang permaisuri yang dihukum mati dan kandaga emas yang berisi bayi yang dihanyutkan. Raja tidak menyadari hal itu, tetapi sebaliknya Si Lengser sangat terkesan akan hal itu.Bahkan ia menyadari sekarang Ciung Wanara yang ada di hadapannya adalah putra raja sendiri.

Setelah persabungan, ayam baginda kalah dan ayam Ciung Wanara menang. Raja menepati janji dan Ciung Wanara diangkat menjadi putra mahkota. Dalam pesta pengangkatan putra mahkota, raja membagi 2 kerajaan untuk Ciung Wanara dan Hariang Banga. Selesai pesta pengangkatan putra mahkota Si Lengser bercerita kepada raja tentang hal yang sesungguhnya mengenai permaisuri Pohaci Naganingrum dan Ciung Wanara.

Mendengar cerita itii raja memerintahkan pengawal agar Dewi Pehgrenyep ditangkap. Akibatnya timbul perkelahian antara Hariang Banga dengan Ciung Wanara. Tubuh Hariang Banga dilemparkan ke seberang sungai Cipamali yang sedang banjir besar.

Sejak itulah kerajaan Galuh dibagi menjadi 2 bagian dengan batas sungai Cipamali. Di bagian barat diperintah oleh Hariang Banga. Orang-orangnya menyenangi kecapi dan menyenangi pantun. Sedangkan bagian timur diperintah oleh Ciung Wanara. Orang-orangnya menyenangi wayang kulit dan tembang. Kegemaran penduduk akan kesenian tersebut masih jelas dirasakan sampai sekarang. (sumber: wartabahasa.com)

Demikian penjelasan lengkap mengenai pengertian dongeng, ciri-ciri dongeng, macam-macam dongeng, struktur dongeng dan unsur intrinsik dari dongeng. Semoga bermanfaat dan selamat belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *