Kisah Sang Pengejar Layangan

Posted on

Sang Pengejar Layangan Assalamualaikum, hallo kawan sebelum kalian baca ini tulisan saya mau minta maaf dulu ya, soalnya bakalan ndak jelas ngomongin apaan, maklum baru pertama kali nulis.

Yap saya baru belajar menuangkan air kedalam pikiran, eh menuangkan apa yang dalam pikiran dalam bentuk tulisan hehe. Tapi coba deh baca aja, kali aja terinspirasi gitu :-).

Selamat membaca.

Oke, musim kemarau adalah musim yang saya tunggu, benar-benar saya tunggu. Tau kenapa? Yap itu waktunya untuk main layangan hehe.

Permainan layangan ini termasuk permainan yang musiman karena paling cocok dimainkan dimusim kemarau, dimana ndak hujan (ya iyalah) dan pastinya angin kencang.

Coba deh kalau ndak percaya main layangan pas musim hujan, pas kamu lagi enak-enak nya “tarik ulur” benang mu dan layangan mu terbang dengan gagah seolah menunjukkan hanya dia yang paling pantas untuk terbang diangkasa (lebay), eh tiba-tiba hujan turun dengan deras, membasahi keningmu, bajumu dan pastinya layangan mu bakal rusak dan jatuh tanpa terlihat lagi kegagahannya.

Oh iya saya kasih tahu sebuah rahasia, sebenarnya kebanyakan anak-anak termasuk saya itu bukan suka mengadu layangannya tapi mengejar layangan.

Maksudnya apa? Ya maksudnya saya itu memang suka menerbangkan layangan tapi saya lebih suka lagi mengejar layangan yang putus.

Jadi bagi saya kalau ada layangan putus itu merupakan sebuah berkah, ya meskipun di sisi lain ada orang yang sedih karena layangan nya putus hahaha.

kite-771772_1920
pinterest.com

Di desa tempat saya tinggal dulu (Janjang Wulung, kecamatan Nongkojajar, kabupaten Pasuruan) ada hari khusus dimana banyak sekali orang, baik anak kecil, remaja dan orang tua yang mengadu layangan atau istilahnya sambitan yaitu hari jumat, ya meskipun kalau pas lagi musimnya hari apa saja pasti ada saja yang ngadu layangan tapi intensitas nya ndak sebanyak hari jumat.

Asli saya ndak tau motif mereka menjadikan hari jumat sebagai hari mengadu layangan tingkat nasional (lebay), tapi beneran loh kalau arah anginnya tepat bisa jadi yang sambitan itu antar desa, jadi kalau ada layangan dari desa lain keliatan dan bisa di jangkau pasti langsung dilawan.

Dengan banyaknya orang yang mengadu layangan maka akan berbanding lurus dengan banyak nya layangan yang putus, dan semakin banyak layangan yang putus pastinya semakin besar pula kemungkinan untuk mendapatkannya haha (ngomong opoo iki).

Kalau mau menceritakan semua pengalaman saya dalam bermain layangan itu sangat tidak mungkin! Sangat tidak mungkin!! Karena apa? Ya karena saya ini termasuk golongan orang-orang yang mempunyai jam terbang tinggi di bidang ini gitu.

Coba bayangin deh. Bayangin. Udah bayanginnya? Bayangin apaan? Misal aja ni ya, saya mulai main layangan sejak kelas 4 SD sampai terakhir main itu SMA kelas 1, udah berapa tahun tuh? 6 tahunan kan? Nah pas musim layangan tuh saya selalu main tiap hari, buat aja sehari minimal 3 jam, belum lagi pas lagi di sekolah, pas lagi istirahat gitu tiba-tiba ada layangan putus, kan saya kejar juga nah nambah lagi kan jam nya. Jadi kalau di akumulasikan pengalaman saya itu sekitar berapa ya? Banyak banget deh susah ngitungnya, pusing sampai masuk angin deh pokoknya.

Yaudah saya ceritain salah satu pengalaman seharian mengejar layangan tapi ndak dapat hasil cuman dapat hikmahnya saja.

Jadi gini, waktu itu hari libur saya ijin ke bapak ibu mau main ke rumah temen, namanya Budi (nama asli). Sebelumnya kita memang sudah merencanakan ini semua.

Kita sudah memprediksikan kalau hari ini bakalan banyak orang yang sambitan. Kita biasanya menunggu layangan itu sesuai arah angin dan memperkirakan jarak yang ideal dimana kira-kira layangan itu akan putus, istilahnya pedot atau tebal.

Tapi biasanya memperkirakan jarak ini ndak akan berguna, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa tempat jatuhnya layangan ndak sesuai dengan perkiraan seperti kecepatan angin, sengit tidaknya sambitan (ada istilah luluran atau tarikan), tingginya kedua layangan itu sambitan, panjang pendeknya benang, banyaknya pohon, dan masih banyak faktor lain (capek nyebutinnya).

Singkat cerita ada beberapa layangansedang sambitan, mata kamipun berbinar dan hati berdebar karena melihat “rejeki”, akhirnya kami bergegas pergi ke sebuah bukit yang sudah kami prediksikan kalau jika layangan itu tebal akan menuju kearah sana. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya ada juga layangan yang tebal.

Wooww rasanya itu benar-benar excited waow bangetlah, kamipun berdiam diri dulu karena memang layangan masih belum sampai ke tempat kami berada, tapi kami yakin kalau bakalan jatuh kearah kami.

Dan benar saja layangan itu menuju ke arah kami, dan disitulah sebuah perasaan lain muncul, perasaan ingin menang sendiri, perasaan ndak mau melihat orang lain mendapatkan layangan itu meskipun dia seorang teman.

Dalam hati saya berbicara “saya ndak akan membiarkan kamu mendapatkannya bud, semua akan kulakukan untuk mendapatkan layangan itu”. Saya ndak tau apa yang dipikirkan Budi, tapi melihat ekspresinya saya yakin dia juga berpikiran sama denganku.

Ketika layangan sudah beberapa meter diatas kami, suasanapun menjadi agak panas kami menunggu dan kami sudah hampir berebut, namun sesuatu terjadi yang membuat kami kaget dan terbelalak.

Layangan yang sudah hampir jatuh diantara kami tiba-tiba kembali terbang tinggi ke angkasa menunjukkan kegagahannya seolah bangkit dari kekalahan.

Kami hanya bisa melihat dan berkata “ Loh, kok iso?” dan akhirnya kami baru sadar ternyata kami tidak memprediksi datangnya kompetitor lain yang dia menunggu benang nya di bawah. Ah “jangkrek” pikirku.

Kami lupa faktor lain dalam mengejar layangan juga harus memperkirakan apakah layangan yang tebal benangnya panjang atau pendek, karena ketika benangnya panjang maka yang harus kita lakukan adalah mengejar benangnya.

Sial saya lupa faktor yang satu itu, padahal itu adalah salah satu teknik dasar dalam mengejar layangan. Sangat disayangkan sebenarnya ndak mendapatkan layangan itu sebab kalau saumpama saya mendapatkannya terlebih dahulu, itu agak menjadi kepuasaan tersendiri.

Ketika kita mendapatkan layangan lalu layangan tersebut kita taruh dipunggung itu rasanya keren banget, jadi semakin banyak layangan yang ada di punggung kita maka tingkat ke-keren-nannya semakin meningkat (itulah yang kami percaya dan rasakan).

layangan (3)
pinterest.com

Singkat cerita (lagi), ternyata prediksi kami salah lagi tiba-tiba saja angin berubah arah dan ndak mengarah kearah kami lagi.

Akhirnya kami bergegas mengikuti arah angin dan layangan itu sambitan. Ya begitu setelah beberapa saat kami mendapati layangan tebal agak jauh dari tempat kami berada, kami pun mengejarnya dan ternyata yang sedang mengejar bukan hanya kami ada sekitar 5 anak lain yang mempunyai tujuan sama dengan kami, yaitu mendapatkan layangan itu.

Disinilah jiwa kompetitif saya menyala, dalam pikiranku “ saya ndak boleh kalah lagi, saya harus mendapatkannya bagaimanapun caranya”. Saya lari sekencang kencangnya dan ternyata mereka larinya juga sama kencangnya.

Oh iya saya beri tahu (lagi) kalau mengejar layangan itu juga perlu skill salah satunya lari kencang dan instuisi dalam memperkirakan jalan mana yang harus dilewati atau kearah mana layangan itu akan jatuh.

Setelah dilihat layangan itu tebal dengan keadaan benangnya pendek, jadi yang harus kita kejar adalah layangannya.

Yap, persaingan semakin nyata ketika kami semua semakin dekat dengan layangan itu, kami berhenti dibawah layangan yang perlahan semakin jatuh diatas kami, mulai ada tabrakan dan tarikan yang terjadi.

Dan disitulah saya melihat ada sebuah kayu panjang, kemudian saya ambil kayu itu dan mencoba mendapatkan layangan tersebut.

Yeaaahh akhirnya layangan tersebut terkena di kayu yang saya bawa, hati saya benar-benar senang “akhirnya perjuangan sampai sore ada hasilnya” pikirku.

Namun hal yang tak terduga terjadi dengan cepat sebelum layangan yang ada di kayu itu saya ambil, dari belakang ada beberapa anak yang dengan buasnya merobek-robek layangan yang mau saya ambil itu.

Deg!! Hatiku tersentak layangan yang sudah didepan mata tiba-tiba rusak, musnah, hancur menyisakan kerangka dan kertas yang tak berbentuk lagi.

Saya ndak bisa berkata apa-apa lagi karena saya tau, peraturan bagi para “pengejar layangan” salah satunya adalah belum jadi milikmu suatu layangan jika kamu masih belum benar-benar memegangnya, bahkan dalam kenyataannya meskipun kita sudah memegangnya terkadang masih saja ada segerombolan anak yang ndak mematuhi aturan itu dengan merobek-robek layangan yang kita dapat.

Aaaahhh sudahlah, kejadian tadi membuat saya frustasi sehingga akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan kepala tertunduk menerima kekalahan hari ini. “okey, saya boleh kalah hari ini tapi awas suatu saat kalau kita bertemu lagi, saya pasti menang” pikirku (lebay).

Jadi kesimpulannya adalah masa kecil saya itu sangat bahagia, saya bersyukur masih bisa merasakan masa-masa kecil yang benar-benar asli masa kecil (iki kesimpulan macem opooo) hahaha you know what i mean lah :-).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *