Menjadi Korban Calo di Terminal Terboyo Semarang
youtube.com

Menjadi Korban Calo di Terminal Terboyo Semarang

Posted on

Calo Terminal Terboyo Assalamualaikum, halo kawan. Bagaimana kabar kalian? Semoga semangat dan sehat selalu. 

Siapa diantara kalian yang suka banget naik bus? Atau malah jadi anggota bismania? Bus memang merupakan salah satu sarana transportasi darat yang paling diminati untuk bepergian keluar daerah/kota.

Banyak orang yang lebih memilih bis daripada beberapa sarana transportasi lain karena lebih murah, waktunya lebih fleksibel, pembayarannya ndak ribet, dan ada juga yang karena hobi.

Meskipun sering terjadi insiden-insiden kecelakaan yang melibatkan bus, tapi sama sekali tidak menurunkan minat para penumpangnya.

Berbicara mengenai bus memang tidak akan ada habisnya apalagi ngobrolnya dengan anggota bismania, kalau ngobrol selama satu jam maka kamu akan tau rute-rute perjalanan dan ongkos setiap bus (saking taunya mereka).

Tapi berbicara mengenai bus juga ndak akan pernah lepas dari yang namanya calo. Di setiap terminal pasti selalu ada orang yang berprofesi sebagai calo.

Nah tulisan kali ini akan menceritakan kisah saya yang menjadi korban calo di terminal Terboyo Semarang.

Kisah ini terjadi ketika saya masih bekerja di Tuban. Waktu itu saya mempunyai rencana pergi ke jogja untuk menyelesaikan beberapa hal.

Sebenarnya saya belum pernah sekalipun pergi ke Jogja lewat jalur Semarang, biasanya lewat jalur Surabaya.

Karena itu sebelum berangkat saya bertanya dulu ke teman saya, bus apa saja yang harus saya naiki kalau lewat jalur Semarang.

Dia bilang saya harus naik bus PO Indonesia menuju Semarang, lalu di lanjutkan naik bus EKA menuju Jogja.

IMG-20140530-01346Oke hari keberangkatan pun tiba, waktu itu sekitar jam setengah 4 sore. Saya sudah bersiap di pinggir jalan menunggu bus PO Indonesia (khas dengan warna merah dan tulisan Indonesia nya). Sekitar 25 menit menunggu, baru saya melihat bus tersebut dari kejauhan. Saya melambaikan tangan untuk memberi isyarat kalau saya mau naik. Ketika bus tersebut berhenti, tanpa pikir panjang sayapun langsung naik. Saat itu bus sedang penuh, namun alhamdulillah saya masih dapat tempat duduk diantara seorang ibu dan seorang bapak paruh baya. Selama perjalanan saya diajak ngobrol ngalor ngidul sama si bapak yang menceritakan tentang anaknya yang mondok.

Saya tiba-tiba merasa ada yang aneh ketika melihat kaca bus bertuliskan Jepara bukan Semarang. Saya bingung dan mencoba bertanya ke kondekturnya.

“Pak ini jurusan Semarang kan?’

“Bukan mas, ini jurusan Jepara”, jawabnya.

“Wah saya mau ke Semarang pak”.

“Oh yasudah mas, nanti mas nya turun di Pati saja, terus naik bus menuju Semarang”, jelas pak kondektur.

“Oh yasudah pak terima kasih”.

Ternyata saya salah naik bus jurusan Jepara, ya mau bagaimana lagi saya kira PO Indonesia itu jurusannya ke Semarang semua. Sesampainya di Pati saya turun dan beruntungnya langsung ada bus jurusan Semarang, sayapun langsung naik.

Sesampainya di Terminal Semarang sayapun turun, namun saya bingung kenapa tidak turun di dalam terminalnya malah di pintu keluar. Saya yang ndak pernah ke terminal terboyo memutuskan untuk berjalan masuk ke terminal. Sesampainya disana saya semakin bingung karena terminalnya terlihat sepi dan gelap banget. Saya memutuskan bertanya ke seorang penjual makanan disana, dan benar saja dia menunjukkan kalau terminal untuk bus besar berada di belakangnya. Saya berterimakasih dan berjalan menuju ke arah yang ditunjukkan bapak penjual makanan tadi. Ketika melihat beberapa bus besar saya merasa senang, berarti saya ndak salah berjalan masuk ke terminal.

Dari kejauhan terlihat ada seseorang yang berjalan menghampiri saya, lalu bertanya saya mau kemana. Saya pun menjawab mau menuju Jogja dan dia langsung terlihat sumringah.

Dia mengajak saya untuk mengikutinya namun saya menolak dan saya bilang mau ke toilet karena memang sedari tadi sudah kebelet.

Kemudian saya menuju toilet, sekeluarnya dari toilet saya kaget karena orang tadi ternyata menunggu di depan toilet. Dia pun menawari saya untuk naik bis yang menuju ke Jogja.

Dari awal sebenarnya saya sudah tahu kalau dia adalah calo makanya saya menolak, namun karena ketidak tahuan saya tentang terminal terboyo membuat saya mengikutinya untuk bertanya-tanya.

Lalu dia mengajak saya bertemu dengan temennya. Temennya berumur sekitar 45 tahunan, dia menyapa saya dan bertanya kemana tujuan saya.

Lalu kami ngobrol panjang lebar karena saya banyak bertanya tentang rute-rute menuju Jogja. Dia bilang kalau sudah malam tidak ada bus yang menuju Jogja, hanya tinggal bis EKA yang menuju Solo.

Bis EKA hanya ada 1 waktu itu, makanya mau tidak mau saya harus naik bus tersebut.

ekaSekitar 30 menit menunggu, bapak tadi bilang kalau bus nya mau berangkat dan saya di suruh bayar ke dia. Saya bilang saya tidak mau, namun dia semakin memaksa. Saya semakin yakin kalau dia seorang calo, pendirian saya sudah kuat dan saya ndak akan tertipu dengan cara-cara seperti itu. Kemudian saya berjalan menuju bus dan segera naik. Belum sempat saya naik, saya mendengar suatu kalimat terlontar dari mulut bapaknya yang membuat saya terhipnotis.

“Mas, sekarang kalau naik bus EKA bayarnya harus diluar bis”, katanya.

“loh iya ta pak?”.

“iya mas, sekarang peraturannya seperti itu”, katanya lagi.

Di dalam bus ada pak sopir, dia mendengar percakapan kami namun diam saja. Itu membuat saya yang tadinya tidak percaya dengan perkataan bapak tadi, tiba-tiba percaya begitu saja, sayapun berjalan menghampiri bapak tadi.

“Pak beneran sekarang bayarnya di luar bis?”

“Iya mas”, sambil mengeluarkan lembaran tiket.

“Ke Solo berapa pak”.

“Rp. 65.000 mas”, katanya.

“Wah ndak ada uang segitu e pak”.

“Masnya punya berapa?”, tanya nya.

“Ada Rp. 50.000 ni pak”.

“Yaudah mas, itu saja ndak papa”, katanya santai sambil menulis biaya dan tujuan saya.

Sial, padahal dalam hati saya sudah berkata kalau dia calo, dia calo, dia calo. Namun ndak tau kenapa saya ndak bisa melakukan apapun dan menuruti apa yang dia katakan.

Ahhhh bodoh banget saya saat itu, ketika tiket sudah di tangan dan sudah membayar, terasa banget penyesalan yang mendalam.

Saya sudah di tipu mentah-mentah oleh si calo, tidak tidak, lebih tepatnya saya terlalu bodoh untuk ditipu oleh si calo. Sial dan apes banget lah saya hari itu.

Saya pun naik dengan kepala tertunduk karena malu dan menyesal telah dibodohi oleh si calo. Dalam perjalanan saya bertanya kepada salah satu penumpang yang naik sebelum saya.

“Mas, berapa harga tiket sampean ke Solo?”.

“Rp. 25.000 mas, kenapa?”, jawabnya.

“Oh ndak mas, ndak apa-apa terimakasih”.

Saya semakin sakit hati kala mengetahui selisihnya Rp. 25.000, itu kan lumayan buat beli nasi goreng 3 bungkus. Akhirnya saya sampai di terminal solo, lalu melanjutkan perjalanan menuju Jogja dengan bis Mira AC.

Setelah kejadian itu saya berjanji pada diri sendiri, saya ndak akan pernah mau tertipu dan dibodohi oleh para calo-calo kurang ajar itu lagi.

Ya begitulah cerita saya menjadi korban calo di terminal Terboyo, Semarang. Semoga kalian bisa belajar dari kebodohan saya, agar ndak sampai menjadi korban calo selanjutnya. Sakit tau.

Semoga Bermanfaat.

One thought on “Menjadi Korban Calo di Terminal Terboyo Semarang

  1. Oalah Mas kok bisa kalah pinter sama calo, sharing pengalaman aja, jgn pernah percaya kpd siapapun di tempat umum. Kalau gak yakin mending nanya ke petugas atau pura pura sok tahu sambil ngamatin situasi dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *