Inilah Kisah Hadramaut, Negeri Leluhurnya Walisongo

Hadramaut Negeri Leluhurnya Walisongo Nama Hadramaut memang agak asing bagi sebagian umat Islam, apalagi bagi mereka yang pemahaman agamanya berasal dari kajian islam yang ada di perguruan tinggi yang cenderung modernis. Hadramaut memang tidak sepopuler seperti Madinah, Mesir dan Turki.

Berbeda dengan kalangan santri pesantren salaf, nama Hadramaut pasti sudah familiar. Banyak kitab-kitab rujukan pesantren salaf yang berasal dari ulama-ulama Hadramaut, sebut saja kitab safinatun najah.

Hadramaut juga populer dikalangan jamaah majelis-majelis ilmu yang diasuh oleh para habaib (alawiyin) alumni atau lulusan rubath di Hadramaut. Salah satu majelis yang diampu oleh alumni Hadramaut yang cukup terkenal akhir-akhir ini diantaranya Majelis Rasulullah yang pusatnya di Jakarta.

Negeri Hadramaut ini istimewa karena pernah didoakan langsung oleh Nabi Muhammad Saw dan Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq.

Nabi Saw mendoakan Hadramaut setelah menerima laporan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan sahabat Muazh bin Jabbal yang diterima dengan baik dan lemah lembut oleh penduduk Hadramaut.

Doa Nabi Saw untuk pendudukan Yaman, “Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk wilayah Syam, Ya Allah limpahkan juga keberkahan untuk Yaman.

Abu Bakar Ash Shiddiq mendoakan negeri Hadramaut Yaman dengan tiga permintaan kepada allah Swt: Dibanyakkan orang-orang yang Sholeh di Tarim, Agar tarim diberkahi Allah dan tidak dipadamkan api agama Allah di tarim sampai hari kiamat.

Salah satu keturunan Nabi Saw yaitu Imam Ahmad Al Muhajir memahami betul keberkahan doa ini, beliau memutuskan untuk berhijrah dari Basrah, Irak ke Hadramaut, Yaman.

Beliau diterima dengan baik oleh penduduk Yaman dan berkat dakwah beliau di Hadramaut menjadikan kota ini sebagai pusat peradaban islam yang masih eksis sampai sekarang. Hal ini tentu sesuai dengan doa Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

Salah satu keturunan Imam Ahmad Al Muhajir kemudian hijrah ke India, beliau bernama Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Azmathkhan ini merupakan fam habaib yang ada di India. Kemudian keluarga besar dari Abdul Malik Azmathkan berdakwah ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Di Indonesia kita mengenal wali songo yang merupakan keluarga dari Abdul Malik Azmathkan. Wali Songo mulai masuk ke Indonesia sejak tahun 1400 M ketika kekuasaan kerajaan Majapahit mulai pudar.

Wali songo ini ada yang berasal dari Champa, Samarkand dan China, tapi asalnya sama yaitu dari Gujarat India dan merupakan keluarga Abdul Malik Azmathkan.

Wali songo menyebarkan ajaran agama islam dengan penuh santun dan menyesuaikan keadaan masyarakat Indonesia pada waktu itu. Beberapa dari mereka berdakwah melalui budaya setempat seperti wayang kulit.

Wali songo yang pertama datang ke Indonesia yaitu:

  1. Sayyid Jamaludin Agung (Jamaludin Husein Azmatkhan/Syekh Jumadhil Kubro)
  2. Sayyid Qomaruddin Azmatkhan
  3. Sayyid Tsanauddin Azmatkhan
  4. Sayyid Majduddin Azmatkhan
  5. Sayyid Muhyiddin Azmatkhan
  6. Sayyid Zaenul Alam Azmatkhan
  7. Sayyid Nurul Alam Azmatkhan
  8. Sayyid Alwi Azmatkhan
  9. Sayyid Fadhl Sunan Lembayung Azmatkhan

Kesembilan wali tersebut merupakan keluarga besar Azmatkhan. Dari sini bisa kita simpulkan sendiri, bahwasanya wali songo itu berasal dari Hadramaut, Yaman yang singgah terlebih dahulu di Gujarat, India.

Sebagian dari wali songo ini ada yang menikah dengan penduduk setempat dan kemudian melahirkan keturunan-keturunan keluarga besar fan Azmatkhan.

Para wali songo ini terus berdatangan silih berganti ke Asia Tenggara dan jumlahnya tetap 9, mereka tergabung dalam Majelis Dakwah Wali Songo.

Pada tahun 1800an Masehi, banyak ulama dari Hadramaut yang berdatangan langsung ke Indonesia. Saat itu masih masa penjajahan VOC belanda. Para ulama Hadramaut ini berdakwah di Indonesia dengan santun seperti pendahulunya yaitu wali songo.

Leave a Reply