Galau? Yuk Belajar dari Kisah Cinta Suci Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra

Posted on

Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra Untuk dirimu yang ketika mendengar segala sesuatu tentang pernikahan akan terbayang-bayang dan muncul gejolak untuk segera menikah.

Kita semua tahu, bahwasanya menikah memang menjadi penyempurna dari sepertiga agama kita. Akan tetapi, apakah semudah itu mengatakan ingin menikah?

Sudah tahukah calon pendamping hidupmu kelak seperti apa? Ok, sebelum kita mengatakan sudah siap untuk menikah, mari kita belajar tentang kisah cinta dari Ali bin Abu Thalib dan Fatimah Az-Zahra.

Ini adalah sebuah kisah cinta yang datang dari putri Baginda Rasulullah SAW, Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib.

Pertama kalinya pintu hati sahabat Ali bin Abi Thalib terketuk adalah saat melihat Fatimah Az-Zahra dengan cekatan membasuh dan mengobati luka ayahnya, Rasulullah SAW yang terluka parah karena berperang.

Semenjak saat itu, Ali pun bertekad untuk melamar Fatimah. Oleh karenanya, ia bekerja dengan tekun mengumpulkan uang untuk membeli mahar dan melamar Fatimah.

Namun belum terkumpul uang Ali untuk membeli mahar, ternyata Abu Bakar yang merupakan salah satu sahabat terbaik Nabi sudah melamar Fatimah terlebih dahulu.

Seketika hancur hati Ali, tetapi dia segera sadar bahwasanya saingannya ini merupakan salah seorang sahabat dengan kualitas iman yang sangat luar biasa dan jauh lebih tinggi dari dirinya.

Meskipun Ali dikenal sebagai salah seorang pahlawan Islam yang gagah berani, namun Ali juga dikenal sebagai seorang yang miskin. Hidup Ali bin Abi Thalib lebih banyak dihabiskan untuk berdakwa di jalan Allah SWT.

Mendung yang menyelimuti hati Ali seakan sirna ketika ia mendengar bahwa Fatimah Az-Zahra menolak pinangan dari Abu Bakar.

Akan tetapi keceriaan Ali kembali sirna ketika sahabat baik Rasulullah yang lainnya, yakni Umar bin Khattab hendak meminang Fatimah.

Mendapati kenyataan itu, Ali hanya bisa pasrah kepada Allah, ia tidak mungkin bisa bersaing dengan sosok Umar bin Khattab yang gagah perkasa. Ia pun mencoba mengikhlaskan jika kelak ia memang tidak berjodoh dengan Fatimah.

Namun takdir berkata lain, Umar bin Khattab mengalami hal yang sama dengan Abu Bakar yaitu pinangannya ditolak oleh Fatimah Az-Zahra.

Waktu itu Ali masih belum berani untuk mengambil sikap, karena ia sadar bahwa ia hanyalah pemuda yang miskin. Bahkan, saat itu harta yang dimilikinya hanyalah satu set baju besi serta persediaan tepung kasar.

Ali berkata pada Abu Bakar “Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa.

Kemudian Abu Bakar yang terharu berkata, “Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!

Mendengar jawaban dari Abu Bakar, semangat dan kepercayaan diri Ali kembali menyala untuk segera meminang wanita pujaan hatinya, Fatimah Az-Zahra.

Kemudian dia memberanikan diri untuk menghadap kepada Rasulullah SAW, lalu menyampaikan maksud hatinya. Dari hadits riwayat Ummu Salamah, diceritakan bagaimana proses lamaran yang dilakukan oleh Ali sebagai berikut.

Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, ‘Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?

Demi Allah,” jawab Ali dengan terus terang,

Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.

Tentang pedangmu itu,” kata Rasulullah SAW menanggapi jawaban dari Ali,

Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi.” Demikian riwayat yang diceritakan oleh Ummu Salamah r.a.

Setelah semua persiapan pernikahan sudah siap, dengan perasaan yang sangat gembira erta disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah SAW mengucakan ijab Kabul pernikahan puterinya, Fatimah Az-Zahra.

Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas mas kawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.

Maka menikahlah Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az-Zahra. Pernikahan keduanya penuh dengan kebahagiaan dan penuh hikmah walaupun diarungi di tengah-tengah kemiskinan.

Bahkan disebutkan Rasulullah SAW sangat terharu ketika melihat tangan dari Fatimah Az-Zahra menjadi kasar karena harus membantu suaminya bekerja keras memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Nah, dari kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra kita menjadi tahu, bahwa Ali membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memantaskan diri menjadi pendamping hidup Fatimah. Bahkan Ali pun sudah mengikhlaskan jika pada kenyataannya nanti Fatimah Az-Zahra bukanlah jodohnya.

Itulah takdir dari Allah, kita juga tidak akan pernah tahu akan dengan siapa kita berjodoh kelak, mengarungi kehidupan.

Banyak dari kita tahu, bahwa jodoh merupakan cerminan diri yang berarti baik kita maka baik jodoh kita, begitupun sebaliknya.

Kawan, menikah tidaklah semudah mengatakannya. Oleh karenanya kita butuh waktu untuk mempersiapkannya, bukan untuk diri kita dan pasangan kita saja, namun untuk kedua keluarga besar kita dan pasangan kita.

Memang, tidak dipungkiri jika ketika menikah akan semakin banyak permasalahan-permasalahan yang datang secara bergantian. Tapi ingat, tidak ada bedanya antara yang menyegerakan menikah dan menunda-nunda menikah, masalah-masalah itu akan tetap muncul.

Tinggal pilih. Mau menyelesaikan masalah-masalah itu bersama lebih cepat atau menundanya. Menikah itu enak loh, banyak manfaatnya. Jadi, Menikahlah, jika sudah siap menikah maka menikahlah, jangan menunda-nunda pernikahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *